Penerapan
Inovasi Teknologi Feromon Seks untuk Pengendalian Hama Spodoptera exigua pada Bawang Merah
Ulat
bawang Spodoptera exigua adalah
hama utama yang
menyerang tanaman bawang merah
di Indonesia. Salah
satu cara pengendalian yang umum
dilakukan oleh petani untuk mengatasi serangan hama tersebut adalah dengan insektisida.
Menurut Koster (1990), berbagai jenis insektisida digunakan
oleh petani untuk mengendalikan hama bawang merah, baik secara tunggal maupun
campuran, serta dengan dosis yang tinggi maupun
interval penyemprotan yang
singkat (2-3 kali
per minggu). Menurut Dover
dan Croft (1984 dalam Setyobudi et al. 1995) dan
Brown (1958) penggunaan insektisida yang tidak rasional,
seperti frekuensi penyemprotan yang sering,
pemakaian dosis semakin tinggi,
dan pencampuran lebih
dari 2 jenis insektisida
dengan tidak memperhatikan kompatibilitasnya, akan
mempercepat terjadinya resistensi hama terhadap insektisida. Di Indonesia
kasus resistensi ulat
bawang terhadap insektisida pada
dosis rekomendasi belum banyak
dilaporkan, namun diduga
hal tersebut telah terjadi.
Masalah
utama dalam budi daya bawang merah adalah hama ulat bawang (Spodoptera exigua).
Hama ini merupakan hama utama di sentra produksi bawang merah. Hasil pengkajian
Thamrin et al. (2003) di Sulawesi Selatan menunjukkan, S. exigua merupakan hama
dominan pada pertanaman bawang merah. Selanjutnya, Moekasan et al. (2005)
melaporkan, kehilangan hasil panen akibat serangan ulat bawang dapat mencapai
100% jika tidak dilakukan upaya pengendalian karena hama ini bersifat polifag.
Ngengat betina meletakkan telur secara berkelompok pada daun bawang atau gulma
yang tumbuh di sekitarnya. Dalam waktu 2−3 hari, telur akan menetas dan ulat
masuk ke dalam daun bawang untuk hidup dan berkembang (Samudra 2006).
Perkembangan dan proses reproduksi S. exigua dipengaruhi oleh juvenile hormon
(JH), terutama dalam proses fisiologi (Kim et al. 2008). Petani biasanya
mengendalikan S. exigua dengan menyemprotkan insektisida kimiawi dosis tinggi.
Penyemprotan dilakukan dua hari sekali agar tanaman aman dari serangan ulat
bawang. Penggunaan insektisida yang intensif dapat menyebabkan hama menjadi
resisten terhadap insektisida yang digunakan (Meidiawarman 1992; Negara 2003).
Moekasan dan Basuki (2007) melaporkan, ulat bawang asal Kecamatan Gebang dan
Losari Kabupaten Cirebon terindikasi resisten terhadap insektisida spinosad,
klorpirifos, triazofos, betasiflutrin, siromazin, karbosulfan, tiodikab, dan
abamektin. Sementara itu, Morin (1999) menyatakan, penggunaan pestisida untuk
mengendalikan hama dapat mengurangi keragaman sehingga menyebabkan peledakan
hama. Selain meningkatkan biaya pengendalian, penggunaan pestisida secara
berlebihan berdampak kurang baik terhadap lingkungan, serta menimbulkan residu
yang berlebih pada produk sehingga mengganggu kesehatan. Oleh karena itu, perlu
ada terobosan teknologi dalam pengendalian hama ulat bawang. Makalah ini
mengulas prospek pengendalian ulat bawang dengan menggunakan feromon seks.
Balai
Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian
(BB Biogen) telah mengembangkan inovasi teknologi feromon seks untuk
mengendalikan hama ulat bawang. Penelitian feromon seks dilakukan secara
bertahap mulai dari skala laboratorium sampai skala lapang dan uji coba di
beberapa lokasi. Pengkajian pemanfaatan feromon seks untuk mengendalikan ulat
bawang merah dilakukan di lima lokasi, yaitu Cirebon, Brebes, Nganjuk, Bali,
dan Samosir. Secara rinci, teknologi yang diterapkan dalam pengkajian Feromon
sebagai penarik serangga jantan dewasa dipasang pada alat perangkap berupa
stoples plastik yang dirancang khusus . Cara pengendalian ini lebih efektif,
efisien, murah, dan ramah lingkungan dibandingkan dengan pengendalian
menggunakan insektisida. Feromon seks mulai diaplikasikan saat tanaman berumur
3 hari setelah tanam. Feromon diletakkan pada perangkap dengan digantungkan di
dalam stoples yang bagian bawahnya diisi air sabun. Perangkap berferomon
ditempatkan pada pinggiran pertanaman bawang pada ketinggian 30 cm di atas
permukaan tanah dengan jarak masing-masing perangkap 15 m. Hasil pengkajian
menunjukkan bahwa hasil bawang merah dengan menggunakan feromon seks lebih
tinggi dibandingkan dengan cara petani. Hasil bawang merah di lima lokasi
bervariasi, bergantung pada lokasi dan teknik budi daya yang diterapkan. Hasil
tertinggi diperoleh di Brebes (18−19 t/ha) dan Cirebon (19 t/ha). Hal ini
karena kedua kabupaten tersebut merupakan sentra bawang merah sehingga teknik
budi daya yang diterapkan tergolong intensif dengan pengaturan pola tanam yang
sesuai. Varietas bawang merah yang ditanam di tiap lokasi berbeda sesuai dengan
kondisi wilayah setempat (spesifik lokasi).
Dari
uraian diatas dapat disimpulkan bahwa Penerapan inovasi teknologi feromon seks
pada pertanaman bawang merah dapat mengurangi penggunaan insektisida.
Pengendalian ulat bawang menggunakan feromon seks lebih efisien, murah, dan
ramah lingkungan serta meningkatkan pendapatan petani Feromon seks mempunyai
peluang untuk dikembangkan di sentra produksi bawang merah, terutama di wilayah
endemis serangan hama ulat bawang.
PUSTAKA :
Jurnal
Litbang Pertanian Vol. 23 No.3 Tahun 2009http://agrotek.upnjatim.ac.id/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar