Rabu, 04 Oktober 2017

Penerapan Inovasi Teknologi Feromon Seks untuk Pengendalian Hama Spodoptera  exigua  pada Bawang Merah
Ulat  bawang Spodoptera  exigua  adalah  hama  utama  yang  menyerang  tanaman bawang  merah  di  Indonesia.  Salah  satu  cara pengendalian yang umum dilakukan oleh petani untuk mengatasi serangan hama tersebut adalah dengan  insektisida.  Menurut  Koster  (1990), berbagai jenis insektisida digunakan oleh petani untuk mengendalikan hama bawang merah, baik secara tunggal maupun campuran, serta dengan dosis yang tinggi maupun  interval penyemprotan yang  singkat  (2-3  kali  per  minggu).  Menurut Dover  dan  Croft  (1984 dalam Setyobudi et al. 1995)  dan  Brown  (1958)  penggunaan insektisida yang tidak rasional, seperti frekuensi penyemprotan  yang  sering,  pemakaian  dosis semakin  tinggi,  dan  pencampuran  lebih  dari  2 jenis  insektisida  dengan  tidak  memperhatikan kompatibilitasnya, akan mempercepat terjadinya resistensi hama terhadap insektisida. Di  Indonesia  kasus  resistensi  ulat  bawang terhadap  insektisida  pada  dosis  rekomendasi belum  banyak  dilaporkan,  namun  diduga  hal tersebut telah terjadi.
Masalah utama dalam budi daya bawang merah adalah hama ulat bawang (Spodoptera exigua). Hama ini merupakan hama utama di sentra produksi bawang merah. Hasil pengkajian Thamrin et al. (2003) di Sulawesi Selatan menunjukkan, S. exigua merupakan hama dominan pada pertanaman bawang merah. Selanjutnya, Moekasan et al. (2005) melaporkan, kehilangan hasil panen akibat serangan ulat bawang dapat mencapai 100% jika tidak dilakukan upaya pengendalian karena hama ini bersifat polifag. Ngengat betina meletakkan telur secara berkelompok pada daun bawang atau gulma yang tumbuh di sekitarnya. Dalam waktu 2−3 hari, telur akan menetas dan ulat masuk ke dalam daun bawang untuk hidup dan berkembang (Samudra 2006). Perkembangan dan proses reproduksi S. exigua dipengaruhi oleh juvenile hormon (JH), terutama dalam proses fisiologi (Kim et al. 2008). Petani biasanya mengendalikan S. exigua dengan menyemprotkan insektisida kimiawi dosis tinggi. Penyemprotan dilakukan dua hari sekali agar tanaman aman dari serangan ulat bawang. Penggunaan insektisida yang intensif dapat menyebabkan hama menjadi resisten terhadap insektisida yang digunakan (Meidiawarman 1992; Negara 2003). Moekasan dan Basuki (2007) melaporkan, ulat bawang asal Kecamatan Gebang dan Losari Kabupaten Cirebon terindikasi resisten terhadap insektisida spinosad, klorpirifos, triazofos, betasiflutrin, siromazin, karbosulfan, tiodikab, dan abamektin. Sementara itu, Morin (1999) menyatakan, penggunaan pestisida untuk mengendalikan hama dapat mengurangi keragaman sehingga menyebabkan peledakan hama. Selain meningkatkan biaya pengendalian, penggunaan pestisida secara berlebihan berdampak kurang baik terhadap lingkungan, serta menimbulkan residu yang berlebih pada produk sehingga mengganggu kesehatan. Oleh karena itu, perlu ada terobosan teknologi dalam pengendalian hama ulat bawang. Makalah ini mengulas prospek pengendalian ulat bawang dengan menggunakan feromon seks.
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian (BB Biogen) telah mengembangkan inovasi teknologi feromon seks untuk mengendalikan hama ulat bawang. Penelitian feromon seks dilakukan secara bertahap mulai dari skala laboratorium sampai skala lapang dan uji coba di beberapa lokasi. Pengkajian pemanfaatan feromon seks untuk mengendalikan ulat bawang merah dilakukan di lima lokasi, yaitu Cirebon, Brebes, Nganjuk, Bali, dan Samosir. Secara rinci, teknologi yang diterapkan dalam pengkajian Feromon sebagai penarik serangga jantan dewasa dipasang pada alat perangkap berupa stoples plastik yang dirancang khusus . Cara pengendalian ini lebih efektif, efisien, murah, dan ramah lingkungan dibandingkan dengan pengendalian menggunakan insektisida. Feromon seks mulai diaplikasikan saat tanaman berumur 3 hari setelah tanam. Feromon diletakkan pada perangkap dengan digantungkan di dalam stoples yang bagian bawahnya diisi air sabun. Perangkap berferomon ditempatkan pada pinggiran pertanaman bawang pada ketinggian 30 cm di atas permukaan tanah dengan jarak masing-masing perangkap 15 m. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa hasil bawang merah dengan menggunakan feromon seks lebih tinggi dibandingkan dengan cara petani. Hasil bawang merah di lima lokasi bervariasi, bergantung pada lokasi dan teknik budi daya yang diterapkan. Hasil tertinggi diperoleh di Brebes (18−19 t/ha) dan Cirebon (19 t/ha). Hal ini karena kedua kabupaten tersebut merupakan sentra bawang merah sehingga teknik budi daya yang diterapkan tergolong intensif dengan pengaturan pola tanam yang sesuai. Varietas bawang merah yang ditanam di tiap lokasi berbeda sesuai dengan kondisi wilayah setempat (spesifik lokasi).
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa Penerapan inovasi teknologi feromon seks pada pertanaman bawang merah dapat mengurangi penggunaan insektisida. Pengendalian ulat bawang menggunakan feromon seks lebih efisien, murah, dan ramah lingkungan serta meningkatkan pendapatan petani Feromon seks mempunyai peluang untuk dikembangkan di sentra produksi bawang merah, terutama di wilayah endemis serangan hama ulat bawang.

PUSTAKA :

Jurnal Litbang Pertanian Vol. 23 No.3 Tahun 2009http://agrotek.upnjatim.ac.id/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar